BADES – Dalam upaya menjaga kesehatan mental di lingkungan sekolah, Puskesmas Bades bersinergi dengan MTs Ma’arif NU Nurul Islam Bades menyelenggarakan program pencegahan gangguan kejiwaan pada Kamis (29/1/2026). Kegiatan yang ditujukan kepada tenaga pendidik dan seluruh siswa ini difokuskan pada penguatan kesehatan mental melalui edukasi serta deteksi dini.
Rangkaian kegiatan terbagi menjadi dua agenda utama. Pertama, sosialisasi program Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bagi dewan guru yang berlangsung di mushola putra. Kedua, kegiatan screening kesehatan dan kejiwaan bagi seluruh siswa kelas 7 hingga kelas 9 yang bertempat di Aula MTs Ma’arif NU Nurul Islam Bades.
Narasumber dari Puskesmas Bades Bapak Yanto dan Ibu Yuni, memaparkan bahwa program P3LP menuntut kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua. Mengingat peran guru terbatas pada jam sekolah, keterlibatan orang tua di lingkungan rumah menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas emosional anak.
Dalam paparannya, Ibu Yuni menjelaskan bahwa siswa pada jenjang MTs/SMP berada dalam fase pertumbuhan yang rentan terhadap stres. "Perubahan fisik, hormonal, hingga dinamika sosial seperti ketertarikan pada lawan jenis sering kali memicu gejolak emosi. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat berdampak pada kesehatan psikologis mereka," ujarnya.
Pihak Puskesmas juga menekankan pentingnya mengenali tiga tingkatan gangguan jiwa, yakni kategori ringan, sedang, hingga berat. Para guru dibekali kemampuan untuk melakukan pengamatan terhadap perubahan perilaku siswa secara proaktif.
Beberapa poin utama dalam langkah penanganan meliputi:
• Pengamatan Perilaku: Mengidentifikasi perubahan drastis, misalnya siswa yang semula ceria menjadi pendiam.
• Pendekatan Personal: Melakukan komunikasi persuasif untuk mencari akar permasalahan.
• Solusi Berkelanjutan: Pemberian bimbingan konseling atau melakukan rujukan konsultasi ke pihak kejiwaan di Puskesmas jika diperlukan.
Bapak Yanto menambahkan bahwa guru sebagai pendidik harus memiliki rasa empati yang tinggi dan mampu memahami perbedaan karakter siswa, baik yang bersifat introvert maupun extrovert. Tujuannya agar sekolah menjadi ruang aman bagi siswa, bukan justru menjadi sumber beban atau trauma.
Sembari sosialisasi berlangsung, di gedung aula dilaksanakan screening kesehatan dan kejiwaan bagi siswa dan siswi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memetakan kondisi kesehatan mental siswa sejak dini agar intervensi dapat dilakukan sesegera mungkin jika ditemukan indikasi gangguan.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan tertib dan lancar. Melalui program ini, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat secara mental dan psikologis.
BANYAK DIBACA
Pembuatan Perangkat Pembelajaran Aswaja Tingkat MI - MA Menggunakan Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Cerita Fantasi untuk kelas VII! On-3 MGMP Mapel Bahasa Indonesia
Bermusyawarahlah dalam segala Hal! Istitabah dan ngaji kitab Ta'lim Muta'alim
Tasmi' Al-Quran 2 Juz (1-2) Ananda Amiroh Alya Mafaza kelaa VIIC
Macam-Macam Maksiat Lisan! Anjangsana Guru